Deduksi, induksi, dan komparasi.

Intan Sofia Rahmah
2 min readOct 10, 2022

--

Math is our life. As well as the need of money is the end of all businesses. Menghitung, membandingkan, lalu mengambil pilihan. Rotasi hidup selalu seperti itu nampaknya. Di ujung tanduk dari semua nasib yang buruk, hitungan matematika muncul menjadi alasan naif manusia tentang segala yang mereka terima.

Tapi, sehebat apapun manusia bisa menghitung, tak ada satupun nasib yang bisa dijelaskan kausalitasnya. Semuanya berakhir dengan n error, terlalu banyak variabel yang tak terbaca, terlalu banyak alur yang bertabrakan, dan terlalu banyak hal yang mengagetkan.

Sekarang, mari kita lihat kembali sistem deduksi otak kita dari cara yang tradisional; komparasi. I would say, iri adalah perasaan normal pertama yang manusia rasakan, karena sudah dari pabriknya, manusia secara otomatis akan membandingkan segala sesuatu dengan yang berkaitan, termasuk bagaimana orang lain dengan dirinya sendiri. Barangkali jika komparasi level pertama itu bisa disebut iri, itu bisa dimaafkan, tapi selanjutnya, saat sesuatu itu masih diam di kata “iri”, manusia belum maju dari mengolah informasi pertama yang didapat. Pada akhirnya, setiap manusia akan tau kalau ada variabel seluas semesta saat sesuatu datang dan pergi. Sudah kukatakan, komparasi manusia dengan diri sendiri seringkali tidak berguna, dan terlalu naif.

Katakanlah tak ada hasil akhir dari komparasi, mari kita gunakan analisa induktif yang lebih rasional: bagaimana seseorang menjalani hidupnya? Belajar dari jalan melintang lebih baik dari mengangkat kepala untuk mengukur bintang tinggi. Sama-sama berdiri diatas tanah, yang jauh pastilah sudah menapaki jalurnya. Kadang pakai sendal atau malah kendaraan bermotor. Baiknya, lihat kanan kiri. Kadang ada ombak tinggi yang menggempur jalan, atau segala hal yang tak menyenangkan. Tapi setiap ujung pasti mempunyai jalannya. Saat itu otak masih keukeuh menggunakan cara komparasi. Baiklah, mari kita ambil kesimpulan yang sederhana: berjalanlah pada jalannya, kamu akan sampai disana. Baik lambat atau cepat, lari atau tertatih-tatih, riang atau sedih, berjalan saja, karena kita tidak punya pilihan lain. Mundur hanya menggilas nasib, tak beruntung.

Hei, masih ingat kataku tentang variabel seluas semesta? Bersama dengan sulitnya jalan yang kau tempuh, ada konsep gaib yang tak terbaca matematika, tidak terukur logika, dan tak tertafsir baik dengan angka atau kata-kata. Ini kata tuhaku dalam Al Qur’an, entah jika tuhanmu beda:

“ dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, Allah akan memberikan jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah maka sudah cukup baginya.”

“Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.”

“Allah bersama orang-orang yang sabar”

Dan lainnya…

Baik padang pasir atau gurun sahara, jalan yang kau lalui tak akan kau tempuh sendiri, jika melibatkan Allah dalam jalan itu. Dia yang mengatur semua variabel tak terbaca yang menjadi misteri hidup, dia yang menjadi teman dalam semua perjalanan.

Intinya, lihatlah manusia sebagai contoh dari bagaimana Allah menghendakinya. Karena setiap variabel yang tak bisa kita petakan, adalah misteri. Adapun mereka yang Allah beri kelebihan diatas manusia lainnya, sudah menempuh jalan yang barangkali belum kita tahu. Mereka berjalan pada jalannya, dan kita akan menempuh jalan kita sendiri. Dengan sepenuh hati atau asal — asalan, semuanya kembali kepada kita sendiri.

10 oktober 2022.

Ditulis didalam kereta yang berjalan melintasi pesawahan dan tebing yang indah.

--

--