Kita beragama, bukan untuk melabeli diri, tapi untuk hidup

Intan Sofia Rahmah
3 min readFeb 17, 2022

--

Hal ini hampir sama dengan: “saya makan bukan karena saya penasaran dengan sensasi mengunyah, tapi karena saya harus bertahan hidup”

Atau

“Saya menyetir bukan karena saya mau membalap mobil di depan saya, tapi karena saya harus pergi ke suatu tempat yang jauh”

atau

“saya belajar membaca bukan karena saya ingin dilihat keren, tapi karena orang tidak bisa membaca akan ditinggal dunia”

Intinya, a choice would be taken based on a clear reason. Jangan tanya kenapa ada orang yang mandi, karena sudah jelas kalau diantara kebutuhan manusia adalah membersihkan diri. Ada banyak hal yang kita lakukan yang didasari atas hal yang serius, bukan main-main. Jadi jika ditanya kenapa kita beragama, ya karena kita butuh itu untuk menjalani hidup ini, bukan main-main.

Kalau masih ada di belahan dunia ini yang masih menyudutkan islam sebagai agama intoleran, terorisme, dan hal yang lainnya, aku bertanya-tanya apakah kita (muslim) disalahkan hanya karena ingin hidup? Saat kita memilih menjadi muslim, kita serius untuk hidup sesuai dengan ajaran dan syariat islam. Dan bagaimana masih ada yang mendorong kita untuk jauh dari agama sendiri, membuatnya menjadi mainan dan bulan-bulanan islamophobia, menyerang ideologi dengan membalik-balikkan fakta, menyebar hoax. Kita serius untuk ber-islam, dan banyak orang ingin membuat kita jauh darinya. Kenapa mereka harus ikut campur dengan keyakinan kita, mengancurkan agama kita, dan tidak senang saat kita ber-islam?

Tidak habis pikir.

Kalau kumasukkan kembali analogi nya, misalkan kita serius ingin belajar menyetir mobil karena kita butuh untuk mengemudi mobil sendiri ke tempat-tempat yang jauh. Lalu seseorang datang kepada kita, mengatakan kalau kita sebenarnya tidak butuh belajar lama untuk hal itu. Yang penting kita tahu cara mengerem dan menggas, dia juga mengatakan kalau belajar mengemudi adalah sesuatu yang sia-sia karena perlu menghabiskan banyak waktu dan uang. Siapa manusia kurang ajar ini, yang asal mengubah niat awal kita untuk bisa mengemudi dengan selamat? Whoever he’s, he definitely wants to DESTROY US. Niat melenceng, nyawa melayang.

Kalau alasan beragama kita saja melenceng, bagaimana nasib hidup kita? Celakalah orang-orang yang mengecoh iman para muslim untuk melenceng dari islam. Yang dia hilangkan bukan hanya cara pandang seseorang, tapi niat hidup dia, masa depannya, hingga seusai kematian pun akan berubah karena perbuatannya.

Saya sakit hati saat islam dicaci maki. Islam adalah yang saya perjuangkan seumur hidup. Punya hak apa mereka mencaci maki apa yang saya perjuangkan? Sanggupkah mereka menahan celaan langit dan bumi atas apa yang mereka lakukan? Sanggupkah mereka bertanggungjawab dunia akhirat atas orang-orang yang terpengaruh tindakan mereka?

Saya lebih heran lagi bagaimana orang bisa seluwes itu untuk menginjak-injak islam. Nilai kebijaksanaannya dimana? Kok bisa seberani itu? Kok bisa selancar itu? Kok bisa tidak takut apapun? Kok bisa? Tidak habis pikir.

Apakah mereka tahu apa yan dilakukan para ulama kami? Tak ada ujaran kebencian. Tak ada main sakit hati bilang: “agama ini juga gini kok, yang itu juga gitu kok…” Ulama kita tidak playing childish. Ulama kita berjuang agar nama islam tetap agung, bertahan dari serangan para penghancur dari dalam ataupun luar.

Sekali lagi, kita ber-islam tidak main-main. Dan jika ada yang mau mengecohkan alasan kita dalam berislam, urusannya tidak sepele, dan yang mereka coba hancurkan bahkan lebih besar dari diri kita.

Kau bilang kata-kata kadrun, radikal atau lainnya dalam opini cuitanmu, dan kau dukung mereka yang menindas agamamu sendiri, maka yang kau hadapi lebih besar perkaranya dari dunia dan seisinya.

Allahu yaraa…

--

--